Tampilkan postingan dengan label Kota ku Kediri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota ku Kediri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2014

Simpang Lima Gumul Kediri

Monumen Simpang Lima Gumul yang sebelum dibangun dikenal dengan nama Proliman, berada di Desa Tugurejo, Kecamatan Gampengrejo, Kediri, Jawa Timur, di pusat pertemuan lima jalan yang menuju ke Gampengrejo, Pagu, Pare, Pesantren dan Plosoklaten. Kediri, tempat dimana pernah berdiri sebuah kerajaan yang agung dengan akar budaya yang kuat, justru mendirikan sebuah monumen yang menyerupai Arc de Triomphe.
Jika Arc de Triomphe, diilhami Arch of Titus yang dibangun orang Romawi pada abad pertama, dibuat di Paris untuk menghormati mereka yang bertempur dan mati bagi Perancis dalam Revolusi Perancis dan Perang Napoleon, maka tidak jelas Monumen Simpang Lima Gumul Kediri ini dibuat untuk menghormati siapa, dan mengapa bupati yang memprakarsainya tidak membuat sebuah monumen agung yang mengambil bentuk dari akar budaya setempat.
Jalanan di sekeliling Monumen Simpang Lima Gumul yang cukup lebar dan ditata dengan baik, dengan jajaran pepohonan pakis yang memberi kehijauan namun tampak tidak akan cukup untuk memberi keteduhan bagi pejalan dari terik matahari Kediri.
monumen simpang lima gumul
Kesan saya saat itu Monumen Simpang Lima Gumul tidak memiliki ornamen yang mengesankan, kecuali relief sederhana yang konon menceritakan sejarah Kediri, berbeda dengan Arc de Triomphe maupun Arc de Titus dengan memiliki lekuk dan detail ornamen indah, yang menunjukkan keseriusan pembuatan dan cita rasa seni budaya tinggi.
Bangunan Monumen Simpang Lima Gumul memiliki enam lantai setinggi 30 m dan seluas 6.186 m2 dan pembangunannya menelan biaya lebih dari Rp 300 milyar. Sementara Arc de Triomphe tingginya 50 m, dengan lebar 45 m dan ketebalan and 22 m, dan Charles Godefroy pernah menerbangkan pesawat Nieuport biplane-nya melalui lubangnya pada sebuah perayaan untuk menandai berakhirnya Perang Dunia I.
monumen simpang lima gumul
Sebuah arca Ganesha, salah satu dewa yang banyak dipuja oleh umat Hindu dengan gelar sebagai Dewa Pengetahuan dan Kecerdasan, Dewa Pelindung, Dewa Penolak Bala dan Dewa Kebijaksanaan, diletakkan di salah satu sudut Monumen Simpang Lima Gumul. Arca dengan ukuran yang sesungguhnya cukup besar itu, terlihat kerdil di Monumen Simpang Lima Gumul, dan tidak cukup untuk menerbitkan decak kagum.
Pembuatan Monumen Simpang Lima Gumul dikabarkan merupakan bagian dari rencana besar Pemerintah Kabupaten Kediri waktu itu untuk membuat sebuah Pusat Perdagangan yang juga berfungsi sebagai pusat rekreasi. Sebuah pemikiran dan rencana yang tampak sangat baik, namun sayang sekali pemilihan ikon-nya menjadi kontroversial dan tidak produktif.
Jalanan lebar dan mulus di sekeliling juga tampak terlalu mewah karena belum ada kegiatan ekonomi yang berarti di sekitar lokasi. Monumen Simpang Lima Gumul di Kediri ini mulai dibangun pada tahun 2003 dan baru diresmikan pada tahun 2008.
Begitupun area parkir kendaraan yang dibuat dan ditata dengan baik, dimana dari sini pengunjung bisa melalui sebuah terowongan untuk menuju ke lokasi Monumen Simpang Lima Gumul. Di sebuah sisi, seorang lelaki tampak sedang menyabit rumput di lahan tidur, mungkin untuk pakan ternaknya, di sekitar lokasi Monumen Simpang Lima Gumul, sementara sepedanya disenderkan di sebuah pohon kecil di tepian jalan.
monumen simpang lima gumul
Bangunan Monumen Simpang Lima Gumul ini bisa menjadi sebuah bangunan megah jika saja dikerjakan dengan lebih baik. Suka tidak suka, Monumen Simpang Lima Gumul di Kediri itu sudah dibangun, dan telah pula menelan biaya ratusan miliar uang negara. Monumen Simpang Lima Gumul masih perlu untuk diperbaiki dan dikembangkan, baik dari sisi seni budaya maupun ekonomi.
Monumen Simpang Lima Gumul tentu sebaiknya diperkaya dengan detail ornamen yang mampu menunjukkan keagungan akar budaya Kediri yang tua dan kuat, yang bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat setempat dan bagi para pejalan yang datang ke sana. Dengan demikian, aspek ekonominya juga bisa pula berkembang seiring dengan bunyi decak kagum para pejalan yang mengunjunginya.
Foto Monumen Simpang Lima Gumul berikutnya: 1.Pakis 2.Monumen 3.Relief-1 4.Lorong depan 5.Lorong belakang 6.Pecut 7.Relief-2 8.Relief-3 9.Empat Relief 10.Pelataran 11.Jalan Raya 12.Parkir 13.Lahan Tidur 14.Avenue

Monumen Simpang Lima Gumul

Desa Tugurejo, Kecamatan Gampengrejo,
Kediri, Jawa Timur.
GPS: -7.8160689, 112.0620649 (Peta interaktif).

Wisata Terdekat Monumen Monumen Simpang Lima Gumul

Arca Totok Kerot (3,4 km)| Pamuksan Sri Aji Jayabaya (6,1 km) | Petilasan Calon Arang (6,5 km) | Kelenteng Tjoe Hwie Kiong (7,2 km)

Sumber : http://www.thearoengbinangproject.com/monumen-simpang-lima-gumul-kediri/

Selasa, 19 Agustus 2014

Sate Bekicot makanan khas kota kediri

TEMPO.CO, Kediri - Bagi sebagian orang, bekicot merupakan binatang menjijikkan. Selain bertempat di kebun dan persawahan yang kotor, binatang bercangkang ini tak berhenti mengeluarkan lendir dari tubuhnya. Bahkan, petani kerap memburu bekicot karena dianggap sebagai hama perusak tanaman. Namun siapa sangka, di balik segala keburukannya, bekicot menyimpan keuntungan bagi manusia.

Melalui teknik pengolahan tertentu, daging bekicot yang berlendir dapat berubah menjadi aneka sajian kuliner nan lezat dan bergizi. Satu olahan yang terkenal adalah sate bekicot. Sajian khas yang menjadi menu utama warung dan rumah makan di Desa Jarak, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri.

Entah siapa yang mempelopori. Kini sepanjang jalanan menuju tempat wisata alam Ubalan penuh warung makanan bekicot. Ada keripik bekicot dan sayur santan bekicot sebagai pilihan menu. Untuk sate bekicot, para pemilik warung bersepakat menamainya dengan istilah Sate 02. "Angka 02 adalah simbol bekicot dalam dunia judi togel," kata Wayan, seorang pemilik warung makan bekicot.

Karena itu janganlah Anda kaget kala memasuki warung dan menemukan aneka menu dengan tambahan 02 pada daftar makanan. Sudah pasti berbahan dasar bekicot.

Untuk rasa, Anda tidak bakal terlalu menemukan tekstur daging bekicot. Karena semua sajian menyesuaikan jenis olahan yang dibuat. Gurih serta kriuk untuk keripik bekicot, dan kenyal gurih di sate 02. Kata Wayan, teknik memasak bekicot cukup panjang. Bekicot yang didapat dari pengepul langsung dipisahkan dari cangkangnya dengan cara dikepruk. "Selanjutnya daging dicuci sampai bersih sebelum memotong menjadi dua hingga tiga bagian," ujarnya.

Potongan daging kemudian dimasukkan ke dalam racikan bumbu: bawang putih, merica, kecap, dan cuka. Proses perendaman ini dilakukan cukup lama agar bumbu bisa meresap ke dalam daging. Kala merendam bekicot dalam bumbu, pembuatan sambal kacang bisa dilakukan bersamaan. "Seperti saus sate lain, isinya kacang tanah, bawang putih, garam, daun jeruk purut, dan cabai rawit."

Satu porsi sate bekicot berisi 50 tusuk. Tiap tusuk sate terdiri dari tiga potong daging bekicot kecil-kecil. Karena ukurannya yang mini, panjang tusuknya pun hanya setengah tusuk sate ayam atau kambing, membuat satu tusuk sate bekicot akan tandas dalam sekali gigit. "Satu porsi biasanya cukup untuk dua orang dewasa, dengan harga Rp 15 ribu," kata Wayan.

Di Ubalan, banyak warung penjaja bekicot. Namun, tak satu pun yang tampak lengang. Bahkan, pada hari libur warung tempat Wayan bekerja bisa menghabiskan 50 kilogram bekicot. "Proteinnya sangat tinggi dan rasanya enak," kata Weni, penggemar sate bekicot.

Bahkan, Weni rela menempuh jarak 35 kilometer dari rumahnya. Selain karena tergoda cita rasa bekicot, lokasi warung di area perkebunan dan tempat wisata alam mendongkrak selera makannya.


Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/02/28/201464295/Gurihnya-Sate-Bekicot-Kediri